ARTICLE ON PROCEEDING SEMINAR NASIONAL TEKNIK UNDANA 2017 4th NOV 2017 ISSN 2598-523X

 








ANALISA QoS PADA APLIKASI XMESH ROUTING PROTOCOL UNTUK KOMUNIKASI MULTIHOP JARINGAN SENSOR NIRKABEL

Godlief Erwin Semuel Mige


Program Studi Pendidikan Teknik Elektro, Universitas Nusa Cendana, Jl. Adisucipto Penfui, Kupang
Email: godlieverwin@yahoo.com

ABSTRAK Jaringan  Sensor  Nirkabel  (JSN) / Wireless  Sensor  Network (WSN)  semakin populer  dan  banyak  digunakan  seiring  peningkatan  ilmu  pengetahuan  dan teknologi  yang  berkaitan  dengan  kebutuhan  akan  informasi  dari  lingkungan sekitar.  Karena bentuknya yang kecil, banyak sensor dapat disatukan  dalam suatu  jaringan  agar keterbatasan kemampuan tiap node sensor dapat dibantu oleh node sensor yang lain serta data sensing yang dihasilkan dapat diolah secara menyeluruh. Untuk dapat mengirimkan data sensing ke sink / gateway dapat dilakukan lewat komunikasi single hop dan multi hop. Dalam  penelitian  ini , dilakukan testbed  pada JSN yang disusun dari 4 node sensor dan 1 sink / gateway.  Komunikasi data antar node sensor disimulasikan secara single dan multi hop. Untuk komunikasi multi hop, diterapkan protokol Xmesh yang dapat mengatur  routing komunikasi multi hop serta kepadatan antrian data dan penentuan prioritas pengiriman data sensing.  Jaringan  sensor yang  dibuat,  kemudian  diuji  kualitas  penginderaan, pengiriman data serta komsumsi arus selama masa pemantauan. Hasil testbed menunjukkan bahwa komunikasi multihop tiap node pada penempatan sensor di ketinggian 60cm  dapat mencapai 23m, dengan radius 92m untuk 4 node sensor.  Packet loss yang terjadi pada hop yang keempat hingga 22,1154 %.  Pada kondisi tanpa  loss dengan beban pengiriman 80 byte  throughput dapat mencapai 663.9446 bps sedangkan pada kondisi loss yang besar seperti pengukuran komunikasi multihop dengan beban 22 byte, pada hop keempat throughput hanya 6,7584 bps. Hasil pengukuran hop pertama pada beban 22 byte diperoleh delay sebesar 0,813 detik, untuk beban 55 byte delay sebesar 0.875 detik, sedangkan untuk 80 byte delay sebesar 1,032 detik.  

Kata kunci: Jaringan, sensor, multihop, protokol, xmesh


1.        PENDAHULUAN

Jaringan Sensor Nirkabel (JSN) terdiri dari sekumpulan besar sensor berukuran kecil dengan berbagai kemampuan untuk merasakan atau mengindera sesuatu seperti getaran, cahaya, suhu, medan magnet dan akustik yang berada disekitar daerah yang dipantau. Kumpulan sensor ini bertujuan untuk mengumpulkan data-data spesifik yang diperlukan untuk mengontrol kondisi di suatu daerah. Data hasil pengideraan dikirim ke suatu stasiun kendali atau dikenal sebagai sink untuk  diproses dan dianalisa, adalah hasil kerja sama atau komunikasi antar node sensor dengan cara multi-hop , seperti pada gambar 1. Yang dimaksud dengan multi-hop adalah komunikasi antar sensor  dengan sink yang berada diluar jangkauannya lewat sensor lain yang terdekat pada jangkauan, kemudian diteruskan secara berantai ke sensor berikutnya, sehingga informasi dapat sampai pada sink. Demikian sebaliknya. 

Gambar 1  Topologi dasar JSN, (Severino, R. dkk. 2006)

Lingkup penelitian adalah dengan melakukan studi literatur, bagaimana membuat testbed pada JSN  dengan protokol Xmesh yang disusun dengan topologi linear yang adalah bentuk lain dari pengkondisian topologi mesh dengan rute tetap untuk keperluan testbed , serta membuat program pengontrolan dengan TinyOS. Topologi mesh dipilih karena cocok untuk jaringan dengan banyak node sensor terkontrol yang disebarkan dalam daerah yang luas.

2.        Metode Penelitian
2.1 Metodologi
Metodologi penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahap penelitian.  Yang pertama adalah pengukuran skalabilitas komunikasi multihop dengan jaringan sensor nirkabel dan yang kedua pengukuran pengaruh banyaknya hop dengan variasi trafik pengiriman paket node. Kemudian dilakukan pengamatan konsumsi arus yang digunakan oleh node pada komunikasi multihop. Untuk pengukuran skalabilitas jaringan dilakukan dengan mengukur jarak maksimum per hop. Pengukuran ini dilakukan dengan variasi ketinggian node yaitu pada 0 cm (diatas tanah), 30 cm, dan 60 cm. Dilakukan beberapa variasi ketinggian dikarenakan jarak maksimum antar hop sangat dipengaruhi oleh pola radiasi antena. Jika pola radiasi antena tidak sempurna maka jarak komunikasi menjadi tidak maksimal. Pengukuran jangkauan komunikasi ini dilakukan dengan menghitung besarnya packet loss pada setiap jarak komunikasi. Jarak komunikasi divariasikan dari 1 meter hingga jarak dimana packet loss telah mencapai 100 persen.
Untuk melakukan pengukuran pengaruh banyaknya hop dilakukan dengan beberapa variasi trafik pengiriman paket node yaitu 22 byte, 55 byte dan trafik 80 byte.  22 byte merupakan pengiriman data maksimum pada tinyos menggunakan komunikasi multihop, dan 55 byte adalah pengiriman data maksimum menggunakan aplikasi Crossbow, sedangkan kapasitas data maksimum yang dapat dihasilkan oleh  node adalah 80 byte. Kecepatan transmisi data yang dikirimkan oleh  node  adalah 1 paket per detik. Pengukuran dilakukan dengan komunikasi 4 hop dan jarak komunikasi antar hop mengacu pada pengukuran skalabilitas jaringan yang telah dilakukan sebelumnya. Parameter ukur yang digunakan pada metodologi penelitian diatas adalah parameter uji quality of service packet loss, troughput, dan delay. Selain skalabilitas dan kualitas jaringan pada komunikasi multihop perlu dilakukan analisa terhadap konsumsi energi yang digunakan oleh setiap  node. Hal ini dikarenakan keterbatasan energi merupakan masalah utama pada jaringan sensor nirkabel. Semakin sedikit energi yang digunakan maka jaringan sensor nirkabel tersebut akan bertahan semakin lama. Atas dasar inilah maka perlu sekali dilakukan pengamatan terhadap konsumsi energi untuk mengukur seberapa lama jaringan sensor nirkabel tersebut dapat bertahan. Dengan menggunakan topologi seperti pada gambar 3.1 dilakukan pengamatan arus yang diberikan oleh baterai kepada  node sehingga diketahui pengaruh banyaknya hop terhadap energi yang dikonsumsi oleh  node dalam komunikasi multihop dengan jaringan sensor nirkabel.
Gambar 2. Topologi Jaringan Untuk Multihop

Selain skalabilitas dan kualitas jaringan pada komunikasi multihop perlu dilakukan analisa terhadap konsumsi energi yang digunakan oleh setiap  node. Hal ini dikarenakan keterbatasan energi merupakan masalah utama pada jaringan sensor nirkabel. Semakin sedikit energi yang digunakan maka jaringan sensor nirkabel tersebut akan bertahan semakin lama. Atas dasar inilah maka perlu sekali dilakukan pengamatan terhadap konsumsi energi untuk mengukur seberapa lama jaringan sensor nirkabel tersebut dapat bertahan. Tidak seperti perangkat komputer, setiap node tidak memiliki clock sehingga dalam pengukuran  delay diperlukan sebuah  sink  yang berperan sebagai  sniffer.  Sniffer dapat menangkap paket yang dikirim oleh node meskipun node tersebut tidak mengirimkan kepadanya. Sniffer digunakan untuk memberikan referensi waktu penerimaan paket sehingga dapat dihitung delay transmisi dengan membandingkan waktu penerimaan paket pada  sink dengan waktu penerimaan paket pada sniffer. Seperti terlihat pada gambar 3 pada penelitian ini  sniffer diletakkan di dekat  node yang akan dihitung  delay-nya. Sebelumnya kedua komputer baik server maupun sniffer harus melakukan sinkronisasi waktu melalui protokol NTP (Network Time Protocol). Agar waktu referensi antara server dan  sniffer sinkron dan dapat sehingga dapat membandingkan waktu kedatangan paket dari  gateway dan sniffer.
Gambar 3. Topologi Pengukuran Delay Dengan Sniffer
2.2. Perangkat Keras (Hardware)
Spesifikasi perangkat keras yang digunakan oleh Jaringan Sensor Nirkabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
-  Sensorboard  :  Tipe  MTS420,  produksi  Crossbow Technology.  Sensorboard  ini  dapat  mengindera  adanya cahaya,  temperatur,  kelembaban,  tekanan  serta  gerakan (akselerometer)  sesuai  jmlah  sensor  yang  onboard. MTS240  juga  mempunyai  modul  GPS.  Sensorboard  dipasang  pada  mote  Micaz  MPR2400  yang  akan memancarkan data sensing menuju gateway.
- Mote Processor  : Prosesor Atmel ATmega 128L, Program Flash Memory 128 Kbyte, Measurement Flash 512 Kbyte, komunikasi  serial  UART,  10  bit  ADC  (0-3  volt), pemakaian arus 8 mA  (mode  aktif), < 15 µA mode  sleep. Transceiver  Radio  :  frekuensi  kerja  2400 MHz  –  2483.5 MHz, kecepatan pengiriman data 250 kbps, daya kirim -24 dbm  -  0  dbm,  sensitivitas  penerima  -90  dbm  (min),  -94  dbm  (typ),  pemakaian  arus  19.7ma  (mode  terima),  11ma (pengiriman -10dbm), 14ma (pengiriman -5dbm), 17.4dbm (pengiriman 0dbm), 20 µA (mode idle), 1 µA (mode sleep). Elektromekanik : Baterai 2xAA, sumber daya  lain 2.7 V – 3.3 V, User Interface LED  (merah, kuning, hijau), ukuran 58x32x7  (tidak  termasuk  baterai),  berat  18  gram  (tidak termasuk baterai), 51-pin konektor ekspansi.
-  Gateway  :  Interface  Node  ;  konektor  ekspansi  51-pin. Interface  UART,  user  interface  LED  (merah,  kuning, hijau).  Interface  LAN  ;  internal  web  server,  serial  login, telnet  login,  password  keamanan,  layanan  pengunci. Interface  jaringan  ethernet  :  konektor  RJ45,  berbasis protokol  IEEE  802.3,  kecepatan  data  10 MBps  (10 Base-T). Pemrograman dalam sistem (In-System Programming) ; Protokol  UISP  (UART  in-system  programming),  LED indikator ISP aktif, RESET node. Fisik  : Dimensi 11.76cm x  5.82cm  x  2.54cm,  sumber  daya  PoE  5V.  Gateway digunakan  untuk  melewatkan  paket  dari  jaringan  sensor kepada  server.  Tipe MIB  600  untuk  komunikasi  jaringan sensor dan interface Ethernet Programming Board (EPRB) untuk komunikasi server. Produksi Crossbow Technology.  Sensorboard    yang  ditempelkan diatas  mote nantinya disebut node.

Gambar 4. Gateway (MIB 600) , Micaz Mote (MPR 2400), Sensorboard (MTS 420)

- Server : Prosessor Intel Pentium Dual Core CPU T2390 @ 1.86 GHz, Memory DDR2 1 GB, Network  Interface Card (NIC) Realtek RTL8186/8111PCI-E Gigabit Ethernet. 
-  Kontroler  :  Minimum  system  microcontroller  Atmel  AT 895x, switch panel, dimmer, motor stepper DC 12V.

2.3  Perangkat Lunak (Software)
Perangkat lunak sangat diperlukan dalam membangun server ataupun  sniffer jaringan sensor. Pada penelitian ini perangkat lunak yang digunakan dibagi menjadi dua, yaitu yang pertama sistem operasi dasar dan yang kedua yaitu tools. Untuk sistem operasi dasar digunakan tinyos-1.x yang bekerja pada sistem operasi Windows menggunakan emulasi linux environment Cygwin. Tools digunakan untuk monitoring jaringan, mengolah data, dan menangkap data jaringan sensor. Perangkat lunak tools adalah Serial Forwarder, Surge, dan Message Center.
·         Cygwin
Cygnus Linux for Windows (Cygwin)  merupakan  linux  environment untuk Windows. Software ini harus diinstal agar TinyOS  dapat bekerja pada windows.
·          TinyOS
TinyOS merupakan sistem operasi  open-source yang didesain khusus untuk jaringan sensor nirkabel. TinyOS memiliki arsitektur berbasis komponen yang mendukung adanya inovasi dan implementasi jaringan sensor nirkabel dengan meminimalisasi ukuran kode yand dibutuhkan sebagaimana karakteristik jaringan sensor yang memiliki sedikit memori. Komponen librari TinyOS terdiri dari protokol jaringan, layanan distribusi sensor,  driver  sensor, dan software pengamatan data sensor yang dapat digunakan untuk melakukan monitoring jaringan sensor. 
·          Serial Forwarder.
Serial Forwarder merupakan software yang digunakan untuk menerima paket yang dikumpulkan oleh  sink. Serial forwarder merupakan perangkat lunak yang berbasis pemrogaman Java. Prinsip kerja Serial Forwarder ialah menerima paket yang diteruskan oleh sink dan meneruskannya melalui port yang lain pada server. Perangkat lunak ini sangat penting karena perangkat lunak yang lain seperti surge dan   Message Center tidak akan dapat bekerja sebelum perangkat lunak ini dijalankan terlebih dahulu.
·         Surge
Surge merupakan  software yang digunakan untuk memonitoring jaringan sensor nirkabel. Surge secara grafis dapat menampilkan semua  node yang ada pada jaringan sensor nirkabel beserta jalur pengiriman paketnya. Selain itu surge juga dapat menghitung banyaknya pesan yang dikirimkan oleh satu  node. Surge hanya mengamati satu grup jaringan sensor nirkabel. Surge bekerja dengan basis pemrogaman Java. Surge dapat bekerja setelah Serial Forwarder dijalankan.
·         Listen
Listen merupakan  software  berbasis pemrogaman Java yang digunakan untuk menampilkan paket yang diterima oleh server. Listen baru dapat bekerja jika  Serial Forwarder sudah dijalankan.  Listen menampilkan paket dalam bentuk  raw (hexadesimal).  Listen menampilkan paket yang asli dan tidak dapat mengolah format
representasi paket yang diterima. 
·           Message Center
Message Center merupakan  software yang digunakan untuk mengamati dan mengolah paket yang diterima oleh server. Berbeda dengan  Listen, Message Center dapat mengubah format representasi paket yang diterima dan menambah fasilitas tertentu. Message Center dapat mengubah representasi paket yang diterima dari heksadesimal
menjadi desimal. Selain itu, Message Center juga dapat menambahkan time stamp pada setiap paket yang ditampilkan.  Time Stamp  yang diberikan oleh Message Center bahkan sampai satuan nilai milidetik.
·         Lantronix Device Installer
Lantronix Device Installer merupakan  software yang digunakan untuk memanajemen perangkat gateway (MIB600). Software ini dapat digunakan untuk memberikan alamat IP pada gateway, mengatur baud rate gateway, bahkan mengatur port yang ada pada gateway. Software ini mampu melakukan pengaturan hardware baik secara grafis ataupun melalui mode text (telnet). Pada penelitian ini diberikan alamat IP 192.168.1.7/24 pada gateway.
3.         hasil dan pembahasan
3.1 Pengukuran Jangkauan Komunikasi
Pada pengukuran Jangkauan komunikasi dilakuan 4 kondisi ketinggian rata – rata node, yaitu pada ketinggian 180cm, 60 cm, 30 cm, dan 0 cm (di atas tanah). Pengukuran dilakukan pada kondisi transmisi Line Of Sight (LOS) agar diperoleh performa maksimum jangkauan transmisi. Daya pancar yang digunakan dalam transmisi komunikasi node adalah sebesar 0 dbm atau 1 mW dan digunakan sumber tegangan (baterai) dengan kapasitas maksimum sehingga tidak terjadi pengaruh kecilnya jangkauan komunikasi dikarenakan kurangnya sumber tegangan. Kemampuan sensitivitas penerima  node dapat diketahui dari spesifikasi perangkat node yaitu sebesar -94 dbm atau 4x10-10 mW.


Gambar 5. Ketinggian node sensor 0cm dari tanah dan 30cm dari tanah
·     0 cm dari tanah. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa terdapat tiga macam area yang menunjukkan kualitas komunikasi  node berdasarkan jangkauannya. Area yang pertama ialah pada jarak antara 1 sampai 3meter dimana tidak ada  packet loss yang terjadi pada kondisi tersebut atau dapat dikatakan semua paket yang dikirimkan telah diterima oleh sink. Kondisi ini dapat dikatakan sebagai kondisi maksimum komunikasi antar node. Pada area yang kedua yaitu pada jarak antara 4sampai 7 meter merupakan area transisi  node. Dikatakan area transisi karena pada jangkauan area ini sudah mulai terjadi packet loss, seperti pada jarak 4 meter terjadi packet loss sebesar 24 % kemudian pada jarak 5 dan 6 meter tidak terjadi packet loss dan pada jarak 7 meter terdapat packet loss sebesar 34,85 % pada area ini kondisi komunikasi sudah tidak stabil sehingga perlu dipertimbangkan lagi apabila menghendaki  jaringan komunikasi node dengan jarak jangkauan seperti ini.  Pada  area ketiga yaitu pada jarak lebih dari 8 meter, packet loss  sudah mencapai 100 % dimana paket yang dikirimkan node sudah tidak dapat diterima oleh sink. Dari pengukuran ini dapat disimpulkan bahwa ketersediaan jangkauan komunikasi dengan posisi  node di atas permukaan tanah terjadi pada jarak antar node kurang dari 3 meter.
·     Pada pengujian jangkauan  node dengan ketinggian 30 cm dari permuakaan tanah, diperoleh hasil bahwa pada jarak 0 sampai 11 meter, komunikasi terjadi tanpa adanya packet loss, artinya setiap paket yang dikirimkan selalu dapat diterima oleh sink. Berbeda dengan pengukuran sebelumnya, area transisi atau area mulai muncul  packet loss pada ketinggian komunikasi 30 cm terjadi pada jarak 12 sampai 16 meter. Pada area ini  packet loss maksimum yang terjadi ialah sebesar 36,36 %, pada jarak 12 dan 16 meter terjadi packet loss sebesar 12,66 % dan 13,33 %. Area dimana sudah tidak terdapat komunikasi antar node pada ketinggian 30 cm yaitu pada jarak mulai dari 17 meter. Setelah jarak 17 meter ini  node tidak dapat menjangkau sink sehingga tidak terjadi komunikasi. Dari pengukuran ini dapat disimpulkan bahwa jangkauan maksimum komunikasi  node yang efisien dengan ketinggian 30 cm adalah 11 meter.

Gambar 6. Ketinggian node sensor 60cm dari tanah dan 180cm dari tanah
·     60 cm dari tanah. Pengujian jangkauan dengan ketinggian  node 60 cm dari permukaan tanah memberikan hasil yang lebih baik dari pengujian yang sebelumnya. Pada ketinggian 60 cm node dapat berkomunikasi bahkan sampai jarak 24 meter.  Packet loss muncul pada komunikasi dengan  jarak 25 meter sebesar 11 % dan kemudian komunikasi sudah tidak dapat terjadi pada jarak 26 meter dan seterusnya. Area dimana komunikasi  node sudah tidak dapat diwujudkan disebut  clear region, pada area ini packet loss yang terjadi mencapai 100 %, Sedangkan area dimana komunikasi node selalu dapat terwujud disebut effective region dimana pada area ini packet loss komunikasi node adalah 0 %. Dengan asusmsi bahwa adanya area transisi menjelang komunikasi hilang maka pada jarak 24 meter dinyatakan menjadi area transisi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jangkauan terjauh untuk komunikasi  node dengan ketinggian 60 cm yaitu pada jarak 23 meter.
·     Pengujian jangkauan komunikasi dengan ketinggian node 180 cm dari permukaan tanah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pada saat ketinggian node 60 cm. Pada komunikasi dengan ketinggian node 180 cm  node dapat berkomunikasi bahkan sampai pada jarak 27 m . Saat pengukuran diketahui mulai terjadi  packet loss pada jarak 23 meter yaitu sebesar 11,67% . Dapat diasumsikan bahwa mula pada jarak 23 m sampai 27 meter merupakan kondisi transisi ketika node akan mulai kehilangan komunikasi. Oleh karena itu maka dapat disimpulkan untuk ketinggian 180 cm jarak komunikasi node adalah 22 meter.

3.2 Pengukuran QoS
1. Packet Loss (ramai dan sepi)
Pengukuran dilakukan dengan melakukan simulasi banyak obyek yang memotong lintasan komunikasi LOS antar node untuk kondisi ramai dan kebalikannya untuk kondisi sepi.
Gambar 7. Pakcket Loss kondisi ramai dan sepi

2. Throughput dan Delay


Pengukuran  throughput dan delay transmisi dilakukan terhadap paket dengan panjang  22, 55, dan 80 byte.  

Gambar 8. Pengukuran Throughput dan Delay Transmisi
3. Konsumsi Arus

Pengamatan konsumsi arus dilakukan untuk mengetahui karakteristik konsumsi arus tiap node pada komunikasi multihop. Setiap node mengirimkan paket dengan panjang 80 byte setiap satu detik sekali. Setiap node dipasang baterai AA dengan kapasitas sebesar 4600 mA. Setiap pengamatan mencatat (dalam mA) konsumsi arus maksimum dimana pada kondisi tersebut  node melakukan transmisi data. Setiap node membutuhkan 24,5 mA untuk mengirim data dan 19,7 mA untuk menerima data. Node 1 menerima data dari node 2, 3 dan 4 untuk diteruskan ke sink.

Gambar 9. Pengukuran konsumsi arus
4.        KESIMPULAN
Simpulan dari hasil pengukuran jangkauan komunikasi, QoS, throughput, delay transmisi dan konsumsi arus pada penerapan Xmesh routing protocol di JSN adalah :
1.       Penempatan node sensor pada ketinggian 60 cm pada kondisi LOS menghasilkan jangkauan kominkasi terpanjang yaitu 23 m dan radius komunkasi sejauh 92 m untuk komunikasi multihop 4 node sensor
2.       Packet loss terbesar terjadi pada konsisi ramai karena lintasan komunikasi terpotong oleh berbagai obyek. Semakin banyak hop, semakin besar pula nilai packet loss.
3.       Semakin besar packet loss yang terjadi, semakin kecil nilai throughput.
4.       Nilai delay transmisi berbanding lurus dengan jumlah hop yang dilalui.
5.        Konsumsi arus pada node terjauh dari sink berbanding terbalik dari node terdekat ke sink. Node terdekat ke sink mengkonsumsi arus paling banyak karena harus menampung dan mengirimkan data dari semua node yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Adianto, Y.P. (2010). ”Komunikasi Multihop Dengan WSN”. ITS Surabaya.
Augusto  J.C  &  Nugent  C.D.  (2006) .  ”Designing  Smart Homes”.  New York, Springer.
Crossbow Technology. “Tiny Os Overview”, www.ce.rit.edu/~fxheec/cisco_urp/cd_seminar/presentations/day1-all/03_Tinyos_Overview.Pdf
Mige,  G.E.S  (2009).  ” Faktor  Yang  Mempengaruhi  Kualitas Jaringan  Sensor  Nirkabel  Pada  Desain  Manajemen Energy  Pada  Gedung,  Jogjakarta,  Semnasif,  UPN Veteran
IEEE 802.15.4. : Spesification, 2003.
Karl  H.  Dan Willig A.  (2005). ” Protocols  And  Architectures For Wireless Sensor Networks”. New York, John Wiley & Sons Inc.
www.freescale.com/Zigbee






Comments